LEBIH BAIK LAMBAT ASAL TEPAT!!
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Kembali lagi dengan postingan saya di blogger ini, saya harap teman-teman semua selalu sehat dan Bahagia. Amin.
Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman saya baru-baru ini, dimana saya merasakan hal baru yang pada intinya itu suatu hal yang berjalan lambat tidak selalu buruk, bahkan jauh lebih baik lambat asal tepat. Kalimat ini mungkin bisa kita sinonim kan juga dengan kalimat yang berada di papan jajan yang bertuliskan “ Lebih baik Lambat asal Selamat”.
Nah dari kalimat diatas pasti diantara kita berpikir “Ya kalo bisa cepat ngapain ngga, lambat akan membuat kita jauh tertinggal daripada yang lain”. Nah ada ngga yang berpikiran seperti itu?
Untuk kalian yang berpikiran seperti itu, selamat!!! kalian adalah orang yang fokus pada tujuan kalian, dan kalian sungguh-sungguh ingin segera mencapainya. Namun teman-teman, konteks yang saya maksud disini adalah tentang kepuasan diri terhadap hasil. Jadi berjalan lambat disini ada kita berada di sebuah kasus dimana kita dalam kondisi misalnya; putus asa, hendak menyerah dengan keadaan, depresi akan hidup, dan rasa-rasa negatif lain yang sering muncul pada kita. Saya akan mencoba membuat sebuah kasus, misalnya nih kita sudah menamatkan pendidikan SMA kita, nah pastinya banyak dong pertanyaan-pertanyaan “umum” yang banyak orang tanyakan pada kita yakni “Mau lanjut kuliah atau kerja?” Nah disitu kita sendiri lagi ‘bingung’ mau jawab apa karena kita sendiri masih ragu akan ngapain setelah masa SMA kita. Nah dimas aseperti itu sering kali diantara kita melihat teman-teman sekitar yang kayanya bisa dengan mudah menentukan kuliah ataupun sudah mendapat kerja. Akhirnya kita membandingkan diri sendiri dengan teman-teman dan bertanya “mengapa mereka semua bisa secepat itu dalam menentukan pilihan, mengapa mereka lebih beruntung dari saya?” Lalu ditengah kondisi bingung, sedih, stress dan tuntutan harus memutuskan dengan cepat itu akhirnya kita memutuskan untuk kuliah misalnya, dengan harapan kita bisa seperti teman-teman kita, dan kita juga bisa menjawab pertanyaan “umum” yang sering dilontarkan banyak orang. Setelah itu kita akhirnya menjalani perkuliahan dengan niat setengah karena kita masuk kuliah bukan murni keinginan kita. Dan pada tahun-tahun akhir kuliah kita mengalami stress kembali karena baru tersadar bahwa selama 4 tahun kuliah kita merasa sedikit ilmu yang masuk pada diri kita, kita merasa bukan ini sebenarnya tujuan kita, dan banyak lagi perasaan-perasaan negatif yang hadir. Kita merasa seharusnya dulu kita langsung saja bekerja atau membuka usaha, karena kita baru sadar bahwa kita memiliki passion dibidang bisnis sejak dulu. Namun kita malah memilih kuliah daripada menekuni bisnis yang sebenarnya sudah kita lakukan sejak SMP misalnya. Sungguh double kecewanya kan?
Teman-teman semua, inilah problematika yang banyak dari kita juga mengalaminya, inilah masa dimana kita akan mengukir sejarah baik atau buruk dalam hidup kita masing-masing. Bila dahulunya kita bisa menyikapi kondisi kebingungan dengan kepala dingin dan bisa tetap santai maka tidak masalah, yang jadi permasalahan adalah dulu kita terus membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain yang sepatutnya tidak untuk dibandingkan. Kita menjadi stress dan depresi sendiri karena tidak bisa seperti teman-teman kita yang bisa berkuliah atau langsung kerja, kita dilanda kegundahan. Disaat seperti itu menurut saya pribadi kita harus bisa mengendalikan diri kita dan berusaha berpikir jernih. Kita ngga perlu untuk terlalu cepat memutuskan sesuatu tanpa pikir Panjang. Kita harus sadar bahwa keputusan yang hendak kita ambil akan menjadi bagian hidup kita beberapa tahun kedepan, jika keputusan cepat tersebut berdampak baik dan kita melakukannnya dengan nyaman sih sebenarnya tidak masalah, nah kalau keputusan yang kita ambil salah bagaimana? Kita pasti akan mengutuk diri kembali di masa depan nanti, dan bertanya kembali pada diri sendiri “ Mengapa saya dulu melakukan ini? Mengapa saya tidak seperti itu saja?” Nah lagi-lagi kita heran dengan diri kita sendiri. Dan menurut saya itu semua disebabkan kita terlalu cepat dalam mengambil keputusan karena melihat orang lain. Kita tidak memikirkan apa yang dibutuhkan diri kita sendiri, mata kita seakan tertutup oleh pencapaian orang lain yang mana justru itu yang akan menghambat diri kita untuk maju. Siapa sangka hal yang kita harapkan bisa membawa kebaikan bagi diri kita dimasa depan malah membuat otak kita berputar 2 kali untuk menyelesaikan problematika dari hal tersebut.
Saya memiliki sedikit tips untuk menghandle diri kita saat ada di posisi seperti kasus diatas.
1. Kenali diri sendiri sejak dini.
Mungkin kalimat diatas sudah sangat mainstream di telinga kita. Namun menurut saya ini sangat penting untuk terus diingatkan kepada kita semua bahwa mengenal diri sendiri tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ya, memang sebagian dari kita ada yang sudah mengerti dirinya hingga sudah tau apa saja yang harus dilakukan dan apa saja yang tidak harus ia lakukan. Dan untuk sebagian lain yang masih belum tau dirinya seperti apa bisa mencari tau sekarang juga. Kenali apa yang dikehendaki oleh hati dan akal kita. Jika kita telah mengenal diri temna-teman secara mendalam, maka kasus seperti yang diatas akan mudah teman-teman lewati dan pastinya teman-teman akan bersikap tenang walaupun orang disekitar kita sudah mencapai apapun. Sikap tenang tersebut bukan pertanda bodo amat atau menyerah dengan tujuan, namun bukti bahwa pencapaian yang harusnya teman-teman capai bukan seperti orang-orang sekitar namun di bidang lain yang sesuai dengan passion kita masing-masing.
2. Yakin akan kemampuan diri
Nah setelah tau seperti apa diri kita, kita harus sadar akan kemampuan tersebut dan pastinya kita yakin akan kemampuan yang kita miliki. Setiap manusia pasti diberi oleh Tuhan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Termasuk kemampuan kita, yang mana bila kemampuan tersebut digunakan dengan baik oleh individunya maka kemampuan itu akan bermanfaat bagi orang tersebut. Orang yang yakin akan kemampuan dirinya pasti tidak sulit untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk bagi dirinya. Hal ini dapat meminimalisir terjadinya suatu keputusan yang salah.
3. Jangan mudah terpengaruh
Setelah kita meyakini apa yang ada didalam diri kita. Langkah selanjutnya kita juga jangan mudah termakan omongan orang lain yang tidak ada manfaatnya bagi kita. Terutama orang-orang toxic yang selalu mencari kesalahan kita hingga kita lupa akan tujuan dan malah lebih fokus pada kesalahan kita. Apalagi diantara kita ada yang memiliki kepribadian perfeksionis, yang mana semua harus dilakukan sesempurna mungkin. Bila hal itu terjadi maka kita akan sulit untuk mengendalikan diri kita. Disamping kita terus memikirkan omongan orang lain kita juga memikirkan sesuatu hasil yang sempurna. Maka dari itu, sebaiknya kita saring omongan orang lain yang mengkritik kita. Jika kira-kira bisa membuat kita lebih baik maka tidak masalah, namun jika sebaliknya maka kita harus menutup telinga serapat mungkin dan mencoba untuk bersikap bodo amat.
4. Hiduplah sesuai keinginan
Ya memang tidak mudah untuk melakukan kehidupan sesuai keinginan kita, karena pasti banyak orang yang mengira kita terlalu egois. Namun, jika kita tidak memiliki prinsip seperti ini kita tidak memikirkan apa yang seharusnya kita ingin gapai. Jangan sampai kita terpengaruh dan mengabaikan apa yang seharusnya kita lakukan. Prinsip ini bisa kita lakukan asal kita tidak merugikan orang lain. Kita hanya perlu fokus pada tujuan kita dan dapat meraih kehidupan Bahagia sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Baiklah, mungkin cukup itu saja yang bisa saya tulis. Semoga
teman-teman semua dapat memahami apa yang saya maksudkan. Dan jumpa lagi di
next post. Bye bye.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Gresik,160721
Komentar
Posting Komentar